Kamis, 02 Februari 2012

0

Mencari Muara Ajaran Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar (SSJ) adalah nama yang tak pernah lekang. Ungkapan itu tidaklah berlebihan, apabila kita mau mencari buku-buku, maupun babad yang pernah diterbitkan. Kepopuleran SSJ di masyarakat setingkat dengan kepopuleran Wali Songo, hanya saja ajaran SSJ dianggap ‘sesat’ lantaran ajaran ‘Manunggaling Kawula Gusti’ (MKG) atau dalam bahasa Arabnya Wahdatul Wujudnya telah melawan syariat agama Islam. Betulkah demikian? Lalu dari mana ajaran SSJ itu bermula?

Tulisan ini hanya akan mendeteksi kesinambungan ajaran MKG bahwa ajaran itu merupakan pengaruh dari ajaran Al Hallaj maupun Ibn Arabi.

SSJ lahir di Cirebon, Jawa Barat. Ia putera seorang raja pendeta. Ayahnya bernama Resi Bungsu 1).( Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, SU, Makrifat Siti Jenar, Grafindo, Jakarta,2005). Nama asli SSJ adalah Ali Hasan alias Abdul Jalil. Mengenai tahun kelahirannya sulit terlacak.

Menurut Agus Sunyoto, pengarang ‘Suluk Malang Sungsang SSJ’, dalam suatu diskusi tentang SSJ menjelaskan bahwa Tarikat Akmaliyah meyakini bahwa guru mereka yang bernama SSJ, memang benar berasal dari Cirebon.

Ada yang unik dalam pengajaran SSJ, karena tidak lazim pengajaran suatu tarikat mengajarkan dua pengetahuan sekaligus, yaitu Qalb dan Aql. Aql adalah pengetahuan analitis yang bertolak dari akal, atau penalaran. Sementara Qalb, seperti umumnya diajarkan pada tarekat-tarekat adalah pengetahuan yang didapat dari intuisi supra-rasional berbagai Realitas Transenden yang berhubungan dengan manusia. Pengetahuan ini bersifat normatif dan nonmaterialistik. Pengetahuan ini berasal dari ‘pengalaman langsung’ yang terkait dengan dzauq (rasa). Ilmu pengetahuan ini dibangun dan dikembangkan di atas tradisi para penempuh jalan ruhani dalam menuju Allah.


SSJ mengajarkan Sasahidan, yaitu faham mistik yang sering dihubungkan dengan ajaran ‘manunggaling kawula-gusti, jumbuhing kawula-gusti, sangkan paraning dumadi yang secara keliru dikaitkan dengan ajaran ittihad, hulul, wahdat al-wujud, istighraq tang panteistik. Padahal ajaran Sasahidan yang disampaikan SSJ adalah faham mistik yang tidak sederhana didefinisan dengan panteistik, monistik dan pantaestik sekaligus jika didefiniskan secara umum.

Di dalam Sasahidan, SSJ mengajarkan Tuhan sebagai Dzat Wajibul Wujud yang ingin diketahui keberadaan-Nya mencipta mahluk dengan pewahyuan Tuhan sendiri melalui tujuh tahap. Ajaran ini disebut martabat tujuh, yang berangkat dari tajalli (penampakan) Tuhan melalui tingkatan-tingkatan atau martabat, dimana pewahyuan Diri dari Yang Satu bertajalli dalam keadaan Bersatu (al Ahadiyah), hal ini bisa dikatakan bahwa Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dalam “keadaan Ketuhanan” (al martabah Ilahiyah). Tingkat pewahyuan diri Diri dari Yang Satu (tajalliyah) itu bertahap menampakkan diri melalui tujuh martabat, yaitu : Martabat Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam, dan Insan Kamil.

Salah satu bagian ajaran Sasahidan yang disampaikan SSJ adalah ajaran “Sangkan Paraning Dumadi” artinya asal dari segala ciptaan. Menurut SSJ bahwa pangkal dari segala ciptaan adalah Dzat Wajib al Wujud yang tak terdefiniskan yang diberi istilah “awang uwung” (Ada tetapi Tidak Ada, Tidak Ada tetapi Ada) yang keberadaannya hanya mungkin ditandai oleh kata “tan kena kinaya ngapa” yang disebut dalam Al Quran “Laisa Kamitslihi Syaiun” artinya “ tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu). Inilah tahap Ahadiyah. Dari keberadaan Yang Tak Terdefinisikan itulah Dzat Wajib al Wujud Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan Diri sebagai Pribadi Ilahi yang disebut Allah. Inilah tahap Wahdah dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri menjadi Rabb-al Arbab. Dari tahap wahdah ini kemudian mewahyukan Diri sebagai Nur Muhammad. Inilah tahap Wahidiyah dimana yang tak terdefinisikan mewahyukan diri sebagai Rabb. Nur Muhammad ini ini kemudian mewahyukan Diri menjadi semua ciptaan yang disebut mahluk, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata.

Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi yang diajarkan SSJ tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalam doktrin Sasahidan disebutkan bahwa “Dia Yang Esa sekaligus Yang Banyak (al wahid al katsir), Dia adalah Yang Wujud secara bathin dan Yang Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yang Wujud sekaligus Yang Maujud (Ad-Dhahir Al Bathin)”.

Dalam perjalanannya mencari ilmu hakikat makrifat, SSJ pernah merantau ke Baghdad, Irak (kira-kira abad 15 - 16 M – itu masa hidupnya). Berdasarkan legenda, menurut Abdul Munir Mulkhan, pola Islamisasi pasca-Demak, sesudah Sultan Hadi Wijoyo yang berkuasa sejak th 1550 hingga tahun 1582 memindahkan kekuasaannya ke Yogya - Surakarta. Konflik pemahaman Islam antara Wali Songo dengan SSJ bisa menjadi petunjuk betapa mengakarnya Islamisasi di Jawa pada abad 15M. Islam di Nusantara lebih diwarnai model sufi daripada model syariah yang lebih terbuka berhubungan dengan tradisi lokal, sistem keyakinan Hindu-Budha dan Jawa.

Sementara itu di Baghdad satu periode sebelumnya Hussayn Ibn Manshur Al Hallaj (857-922), seorang sufi Persia dilahirkan di Thus yang dituduh musyrik oleh khalifah di Baghdad, dihukum bunuh karena ajarannnya. Al Hallaj adalah gelar, asal kata “al Hallaj Al Asrar, yang artinya pembersih hati atau kesadaran. 2) (Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002)

Al Hallaj terkenal dengan ucapannya “Anna Al Haqq” atau Akulah Yang Maha Mutlak” atau “Kebenaran”. Ahmad Ibn Fatik berkata bahwa ia pernah mendengar Al Hallaj berkata “Akulah Yang Maha benar dimana kebenaran itu milik Tuhan dan Aku mengenakan Esensi-Nya sehingga tidak ada perbedaan diantara Kami”, pernyataan itu adalah pernyataan aneh Al Hallaj dibandingkan dengan tokoh lainnya.

Ibn Arabi, yang memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad Muhyiddin (1165-1240 M), sebagai seorang sufi sekaligus guru Sufi, dipandang sebagai tokoh besar sehingga disebut “Syekh Agung” (Syeikh al Akbar), karena pandai sekali dalam menyusun doktrin metafisis. Ibn Arabi lahir di Spanyol. 3) (Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002). Ibn Arabi mempopulerkan ajaran Wahdatul Wujud dengan mengekspresikannya secara formal. Yang dimaksud wahdat al-Wujud dapat diartikan kesatuan wujud 4). (Drs. Totok Jumantoro MA, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, 2005)

Walaupun doktrin ini disandarkan kepada Ibn Arabi, dalam realitanya merupakan ajaran fundamental dan sangat penting dalam seluruh aliran tasawuf.

Doktrin wahdatul Wujud yang sering disalah tafsirkan dengan pengertian sebuah kesamaan substansi antara alam dan Tuhan, yakni bahwa alam adalah Tuhan yang samar.

Paham Wahdat Al-Wujud diidentikkan dengan pantheistik oleh orientalis. padahal ada perbedaan antara Wahdat Al Wujud dengan Pantheisme. Menurut Ibn Arabi dalam kitab Futtuhad Al Makiyah, bahwa hakikat wujud itu itu hanya satu yaitu Allah, sedangkan wujud yang banyak itu merupakan Ilusi atau bayangan dari Yang Satu itu.

Essential Identification of manifestated order with onto logical principle, sedangkan pengertian pantheisme adalah subsantial identification of universe with God. Dalam pantheisme, jauhar atau esensi Tuhan terdapat dalam setiap yang ada. Menurut konsep ini bahwa wujud segala yang ada ini bergantung pada Wujud Tuhan. Andaikan Wujud Tuhan tidak ada maka wujud selain Tuhan juga tidak ada. Menurut Ibnu Arabi “Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu dari dzatNya, sehingga apabila kami melihat-Nya berarti kami melihat diri kami, dan apabila kami melihat diri kami maka kami juga melihat Diri-Nya”.

Manusia adalah hamba Tuhan, karena tuhan beriluminasi secara dzatiyah pada manusia (tajalli dzatiyah) sehingga manusia adalah zat Tuhan, karena itu disebut Insan Kamil atau nuskhat Ilahi. Lebih jelasnya, Ibn Arabi menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam, dimana prosesnya sebagai berikut :

Tajalli, dzat Tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah. Tanazzul Tuhan di alam ma’ani ke alam ta’ayyunat (realitas rohaniah), yaitu alam arwah yang mujjarat. Tannazul kepada realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berfikir. Tanazzul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi, yaitu alam mitsal (ide) atau khayal. Alam materi, yaitu alam inderawi.

Kesimpulan : 
Masih ada kesinambungan antara ajaran Ibn Arabi dengan ajaran SSJ, mengingat keberadaan SSJ dari prediksi sekitar abad 15atau 16M, sementara Ibn Arabi sekitar abad 11-12M, dan Al Hallaj abad 9M, maka ada kemungkinan SSJ terpengaruh oleh ajarannya Ibn Arabi ataupun Al Hallaj. Hanya saja ajaran SSJ dipraktekkan oleh pengikutnya di sana-sini secara rahasia dan berkesinambungan. Untuk kebenarannya, hanya Allah saja yang Maha Tahu segalanya.

Salam,


Bibliography :
1) Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, SU, Makrifat Siti Jenar, Grafindo, Jakarta,2005
2) Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
3) Drs. Totok Jumantoro MA, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, 2005
4) Agus Sunyoto, Makalah Diskusi SSJ, 2007

0 Responses to “Mencari Muara Ajaran Syekh Siti Jenar”

Poskan Komentar