Rabu, 01 Februari 2012

0

Mengharukan, Kisah Imam 'Tukang Sampah' di Jakarta Ditayangkan Televisi Inggris BBC

Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan kota yang cukup pesat di dunia ditayangkan stasiun televisi Inggris BBC2, Minggu (29/1) malam. Laporan wartawan BBC London berjudul 'Toughest Place to be a binman' membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak saja di Inggris tetapi juga di Brussel,dan Amerika Serikat yang bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC Iplayer.


Selama satu jam laporan mengenai kisah Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap harinya dengan gerobaknya sementara diawal tayangan, tukang sampah dari Inggris Wilbur Ramirez mengunakan truk dan bekerja dengan dua rekannya.

Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi bahkan kesehatan dan keselamatan.

Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin ditengah tengah kehidupan kota Jakarta yang kaya dan sangat timpang antara yang kaya dan miskin. Wilbur Ramirez, selama 10 hari, mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di kota yang disebutkan sebagai kota yang padat penduduk dan sampah menjadi masalah besar.

"Kamu bekerja dengan siapa saja," tanya London binman Wilbur Ramirez kepada Imam yang dijawab ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Menangis
Melihat kehidupan Imam, ternyata Wilbur seringkali merasa terharu dan bahkan meneteskan air mata. Mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan istrinya meskipun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun. Dalam laporannya disebutkan Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan menjajal melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah.

"Sampah........," demikian teriak Imam, ayah dua anak ini sehari-hari menjalankan aktfitasnya sebagai pengumpul sampah. Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika berkisah bagaimana kehidupan Imam dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Dari dunia kesehatan dan keselamatan sadar pengelolaan limbah Inggris, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang menumpuk di Bantargerbang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.

Diakhir laporan Wilbur yang tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu menemukan kehidupan Imam yang mendominasi, dan ketidakberdayaannya untuk mengubah keadaannya. Pada akhirnya setelah Wilbur berbicara dengan ketua RT yang minta agar Imam mendapat kenaikan gaji pun dapat dikabulkan.

Menjadi Perbincangan di Internet
Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman Facebook-nya "sediiiiiih banget liat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang binman London ke Jakarta berbagi pengalaman".

"Sangat memalukan sekali kota Jakarta ternyata sangat kotor dan masih terbelakang sekali cara kerjanya," ujar istri Berry Natalegawa, kakak Menlu Marty Natalegawa. Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa, biasa disapa seharusnya para pejabat malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Inggris.

"Apa enggak malu? malah wakil rakyat seenak enaknya ambil uang rakyat apa lagi pemimpin negara yang tidak peduli sangat memalukan, semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini," ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merekam program tersebut dan akan membawa ke Jakarta.

"Nangis aku nontonnya.....bukan nangisin tukang sampah Inggris, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah," ujar Yanti Hitalessy. Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan diskusi di laman facebook yang antara lain disebut oleh Lies Parish meskipun sama berprofesi sebagai tukang sampah atau binmen namun pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.

Bahkan London binmen pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta, ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Inggris. Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di Inggris dan kini tinggal di Brussel yang juga menyaksikan tayangan tersebut mengakui bahwa acara benar-benar kontras kehidupan di sana, miris.

Begitupun yang ditulis Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol menulis tukang sampah di Inggris yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di Jakarta.

More Details this Camcorder »

0

Namanya Dick Hoyt (Kisah nyata tentang Cinta Seorang Ayah)

Dick Hoyt

Ini adalah sebuah kisah tentang kasih sayang yang begitu besar seorang ayah terhadap anak laki-lakinya. yang menderita cacat di otaknya sejak lahir. Terkadang kesulitan menjadikan jalan untuk menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Sebuah penderitaan merupakan jalan untuk menunjukkan cinta yang sesungguhnya. Ungkapan itu semakin lama semakin bisa dipahami. Terlebih saat membaca dan melihat kisah keluarga dari Boston, Amerika Serikat ini.

Memang ada orang yang mengeluh karena kesulitan. Ada banyak juga yang tampil sebagai pribadi yang keras dan pemarah karena beban derita yang besar. Sebagian orang kerap tergoda untuk lebih mudah marah dan gampang membenci saat banyak masalah datang. Namun kisah cinta seorang ayah ini mulai membuka mata setiap orang, bahwa penderitaan adalah sungguh jalan untuk menunjukkan cinta.

Kisah ini bercerita tentang sebuah keluarga yang terus mencintai anaknya dalam penderitaannya. Mungkin Anda pernah mendengar tokoh ini, atau sudah pernah melihat videonya, tidak apa, tapi mungkin ada yang belum pernah mendengar, siapa tahu apa yang saya tulis kembali disini ini dapat berguna sebagai sebuah pelajaran hidup untuk kita semua.

Semua penderitaan itu bermula ketika anak laki-laki mereka lahir dengan cacat bawaan. Cacat ini bukan pada fisik luarnya, tetapi pada bagian dalam tubuhnya. Otaknya tidak memperoleh suplai oksigen dengan baik. Tentu saja ini sangat berpengaruh buruk. Secara sederhana, Rick, anak laki-laki mereka ini tidak akan bisa hidup normal.

Suami istri itu tidak menyerah begitu saja meski mendapati anaknya tidak akan bisa berjalan dan bicara. Mereka mencari jalan agar anaknya bisa belajar, bisa tumbuh, meski memiliki begitu banyak kekurangan. Saat Rick berusia 10 tahun orangtuanya memberi sebuah computer sederhana yang bisa sangat membantu Rick. Tentu saja tahun tersebut, 1972, tekhnologi belum sangat maju seperti sekarang. Toh kehadiran computer itu sangat menolong. Pelan-pelan Rick diajari mengeja huruf demi huruf. Kata pertama yang membahagiakan mereka adalah ketika Rick bisa menggerakkan mouse computer untuk mengeja kata sapaan, “hi Mom” dan “hi Dad”.


Pelan-pelan Rick dikenalkan dengan berbagai aktivitas anak-anak pada umumnya, meski ia menjalani dengan duduk di kursi roda. Ia diajari berenang, bermain hoki, dll. Akhirnya tahun 1975, ketika ia berusia 13 tahun, Rick di masukkan ke sekolah normal. Di sana ia belajar dan bisa mengikuti dengan baik, tentu dengan bantuan berbagai alat. Tidak hanya sampai di situ, Rick mampu menyandang gelar sarjana dalam bidang Pendidikan Khusus tahun 1993.

Seperti anak-anak dan pemuda pada umumnya, Rick sangat menyukai olah raga. Ia mengikuti beritanya dan sangat ingin terlibat di dalamnya. Di sinilah kebesaran cinta sang ayah sungguh diuji. Suatu saat di musim semi tahun 1977, Rick mengatakan ingin ikut dalam lomba lari 5 mil yang ada di kota mereka. Ayahnya menyetujui. Tentu saja, Rick tidak mampu berlari sendiri. Orangtuanya membuatkan kursi roda khusus yang bisa didorong sambil berlari. Ayahnyalah yang berlari sambil mendorong kursi roda anaknya.

Setelah ikut lomba tersebut, Rick seperti keranjingan untuk ikut lomba yang lain. Sang ayah selalu mengiyakan. Ia tidak pernah menolak keinginan anaknya. Suatu malam, Rick berkata pada ayahnya, “Dad, ketika aku ikut berlari, aku merasa bahwa aku bukan orang cacat.” Tentu saja ini sangat mengharukan bagi sang ayah.


Berbagai lomba telah mereka ikuti. Puncaknya ketika mereka terlibat dalam lomba iron-man. Lomba ini meliputi lari, bersepeda dan berenang di laut. Hal itu terjadi pada tahun 1992. Sekali lagi, sang ayah mengiyakan tanpa mengeluh akan permintaan anaknya tersebut. Saat itu usia Rick sudah 30 tahun dan ayahnya sudah 52 tahun. Setelah itu mereka masih mengikuti beberapa lomba yang lain lagi. Bapak anak ini menjadi sebuah team yang solid. Sang anak terus berusaha memberi semangat pada ayahnya dengan merentangan tangan dan menunjukkan raut muka gembira. Mereka telah menjadi satu. Mereka tidak mungkin berlomba secara terpisah. Sang ayah adalah tubuh dan anaknya adalah hati yang membakar semangat untuk terus berlari.

Mereka masih memiliki rencana akan mengikuti lomba marathon di Boston, yang merupakan lomba favoritenya Rick pada tahun 2011. Waktu itu terjadi, usia sang ayah sudah 70 tahun. Kita tidak tahu apakah mereka masih bisa melakukan atau tidak. Namun yang pasti, ayah yang perkasa ini telah menunjukkan cinta yang sangat besar pada anaknya. Ia tidak pernah mengeluh, karena penderitaan anaknya adalah jalan baginya untuk menunjukkan cintanya.

Suatu saat Rick pernah ditanya, ‘jika bisa memberi sesuatu pada ayahmu, apakah yang ingin kamu berikan?’ Rick menjawab, ‘kalau mungkin, suatu saat ayah duduk di kursi ini dan aku yang mendorongnya.’ Teman, saya belajar banyak dari keluarga ini, dari ayah yang hebat ini. Maka saya ingin bagikan pada Anda salah satu klipnya. Tentu saja, kalian masih bisa mencari klip yang lain lagi. Semoga kalian mendapatkan hikmahnya. O iya, ayah perkasa yang penuh dengan cinta ini namanya DICK HOYT.
Silahkan buka videonya dibawah, yang sangat menggugah perasaan :



More Details this Camcorder »

0

Maaf Bu, Saya Mencopet karena Ibu Saya Sakit........

Satu lagi cerita tentang pelajaran hidup, janganlah melihat sebuah persoalan dari satu sisi yang pada akhirnya akan membuat kesimpulan yang terburu-buru. Dari pinggir kaca nako di antara celah kain gorden, saya melihat anak muda itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

ana kmuda

Saya pernah melihat anak muda itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud anak muda yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Adhi anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Dwi, suami saya, ke kantor. Adhi sekolah, Anna yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Dian sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

----------------------o0o---------------------------

Dan hari ini, anak muda yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Dwi membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Dwi dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Dwi bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Dwi menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bibi Dian, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Dwi dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Dwi dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya. Anna menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

(Diolah dari berbagai sumber)

More Details this Camcorder »

0

Bagaimana Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk?

Kita sebagai manusia pasti pernah atau sekarangpun masih sering melakukan kebiasaan buruk. Hal itu hanya membuang-buang waktu kita saja, merugikan diri sendiri atau bisa benar-benar menyakiti orang lain. Tentu saja, untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu mungkin memerlukan beberapa tahun dan bahkan beberapa sesi terapi mahal.


Tapi psikiater, psikolog, dan terapis kognitif setuju bahwa pengakuan adalah langkah pertama. Jadi mari kita cek apa saja kebiasaan buruk kita dan dapatkan postur tubuh yang lebih baik, kuku yang lebih lentik, dan persahabatan yang hangat.

Kebiasaan Gelisah
Mengapa Anda melakukannya: Anda memiliki energi berlebih, mungkin dari lonjakan adrenalin yang disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi kafein atau gula, dan tidak bisa disalurkan.

Bagaimana menghentikan: Jika Anda senang minuman manis, kurangi gula itu. Giat berolahraga dan tidur yang cukup. Dan cobalah gerakkan tangan dan kaki ke gerakan isometrik: Letakkan tangan Anda di pangkuan Anda dan berkonsentrasi lembut mendorong telapak tangan. Untuk kaki Anda, tempatkan kedua kaki datar di lantai dan kemudian dorong ke bawah. Lakukan gerakan ini sampai gelisah reda.

Kebiasaan: Mengunyah Premen Karet
Mengapa Anda melakukannya: Ini kebiasaan yang terbentuk ketika Anda sedang gugup atau cemas. Bagaimana menghentikan: Solusi tercepat dan paling efektif? Beralih ke permen keras. Tapi jika Anda benar-benar tidak ingin mengunyah permen karet lagi, mintalah teman baik atau rekan kerja sebelah Anda menghentikan Anda setiap kali ia mendengar Anda melakukannya.

Kebiasaan: Sering Terlambat
Mengapa Anda melakukannya: Jauh di dalam lubuk hati, Anda mungkin berpikir waktu Anda lebih penting daripada waktu menunggu (Anda berpikir anda lebih baik terlambat, karena begitu banyak yang harus dikerjakan sebelum berangkat. Daripada tiba kecepetan dan harus menunggu). Tapi kadang saat Anda telat, anda telah rugi. Disini Anda kekurangan beberapa keterampilan penting manajemen waktu.

Bagaimana menghentikan: Ketika seseorang meminta Anda untuk melakukan sesuatu, jangan segera bereaksi, baik langsung menerima ataupun menolak. Katakanlah Anda akan menghubunginya lagi, kemudian memutuskan apakah Anda punya waktu. Juga, mencari tahu kegiatan yang selalu membuat Anda terlambat.

Trik: Mengatur jam Anda lima menit lebih cepat dan bangun lebih pagi. Selalu menelepon ke bos jika Anda terlambat.

Kebiasaan: Penundaan
Mengapa Anda melakukannya: Ini adalah strategi untuk mengelola kecemasan karena harus menyelesaikan tugas.

Bagaimana menghentikan: Mengakui bahwa ketika Anda menunda, orang lain mungkin berpikir Anda tidak peduli tentang pekerjaan, dan itu lebih buruk menyelesaikan sesuatu kurang daripada sempurna. Jika Anda tidak menyelesaikan tugas yang diberikan oleh diri sendiri pada waktu tertentu, buatlah surat peringatan untuk Anda sendiri, atau sebuah hukuman. Jika Anda membuat diri Anda bertanggung jawab atas konsekuensi, itu akan memotivasi Anda untuk menyelesaikan tugas.

Kebiasaan: Bongkok
Mengapa Anda melakukannya: Anda merasa nyaman berjalan dengan punggung yang bungkuk tanpa harus capek berjalan tegak. Tapi itu tidak bagus dipandang dan akan membuat anda cepat tua.

Cara tegak: Ambil pelajaran menari, pilates, atau yoga untuk memperkuat otot perut dan otot punggung atas. Sebuah latihan bahu sederhana dengan menyentuhkan bahu Anda ke telinga-adalah cara yang lebih mudah untuk memerangi bungkuk. Apakah 10 putaran ke depan dan 10 belakang.

"Ini akan meningkatkan postur dan membantu mengingatkan Anda untuk berdiri dan duduk tegak," kata Phil Haberstro, Direktur Eksekutif dari Asosiasi Nasional untuk Kesehatan dan Kebugaran, di Buffalo.

Aktivitas fisik yang teratur membantu memerangi kelelahan mental dan fisik yang dapat berkontribusi bungkuk.

Kebiasaan: Berantakan
Mengapa Anda melakukannya: Anda mungkin mempunyai pandangan. Anda ingin dikelilingi oleh barang berantakan karena merangsang dan itu mengingatkan Anda untuk melakukan pekerjaan Anda. Tapi itu menjadi bumerang, karena Anda membuang waktu mencari sesuatu.

Bagaimana menghentikan: Pisahkan kertas ke tumpukan yang ingin Anda kerjakan dan tumpuk yang Anda pikir dapat ditunda. Gunakan folder atau kotak dalam berbagai warna.

"Salah satu klien saya memiliki 12 clipboard tergantung di kantornya: enam untuk proyek saat ini dan enam untuk yang mungkin ia bisa kerjakan nanti. Dia masih terangsang secara visual, tapi barang-barangnya diatur. Sistem pengaturan yang bekerja untuk Anda, dan mulai dengan langkah-langkah dasar, seperti meletakkan kunci Anda di tempat yang sama setiap hari,” kata Lynn Cutts, seorang pelatih kehidupan bersertifikat di Colorado.

Kebiasaan: Mengigit Kuku
Mengapa Anda melakukannya: Anda menggunakannya untuk memperoleh kenyamanan dan meringankan stres. "Menggigit kuku adalah versi dewasa mengisap jempol," kata Alan Strathman, profesor psikologi sosial di University of Missouri, Columbia.

Cara menghentikan: Pertama, perhatikan bila Anda menggigit kuku Anda, dan kemudian ganti dengan tindakan lain. Taruh bola stres di meja Anda, atau bahkan bermain dengan Silly Putty waktu jari-jari Anda mulai menggelitik gigi Anda. Anda juga dapat mencoba memakai kuku sintetis atau lukisan kuku alami Anda dengan cat yang memiliki rasa busuk. Atau menggunakan manikur. Anda akan terlihat baik, dan setelah membayar layanan ini, Anda akan berpikir dua kali merusak hasil.

Kebiasaan: Merengek/ Mengeluh
Mengapa Anda melakukannya: Anda tidak merasa yakin bahwa Anda memiliki kekuatan untuk meminta sesuatu. Sebagai seorang anak, Anda mungkin merengek ketika Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan, dan itu lalu berhasil.

Bagaimana menghentikan: Sebagai orang dewasa, Anda aneh jika Anda berpikir Anda akan mendapatkan hasil yang sama. Jika suami atau teman-teman Anda mengatakan Anda cengeng, perhatikan. Hanya menyatakan apa yang Anda inginkan dengan membuat permintaan langsung.

Ingat: Kebanyakan orang akan resistensi terhadap pengeluh dan cenderung menolak mengabulkan permintaannya.

Kebiasaan: Ngomongin Orang Lain
Mengapa Anda melakukannya: Anda menutupi kekurangan Anda dengan mengekspos orang lain. Tetapi seseorang yang kebiasaan bergosip tidak benar-benar percaya dia sendiri cukup baik.

Bagaimana menghentikan: Fokus percakapan Anda pada berbagi pengalaman Anda, seperti menemukan sebuah restoran baru atau liburan Anda terbaru. Membincangkan kejadian terkini, musik, atau olahraga. Ini akan memberi Anda mendiskusikan sesuatu yang lain selain orang lain. Plus, Anda tidak pernah tahu siapa yang mendengarkan pembicaraan Anda.

Jika Anda mengeluh tentang rekan kerja Anda, menyadari bahwa teman terbaiknya mungkin wanita di belakang Anda di kereta api. Perlu diingat bahwa Anda membuat gosip tampak bisa dipercaya. Anda bahkan mungkin kehilangan teman-teman dan kontak profesional ketika orang menyadari bahwa Anda sedang bergosip.

Kebiasaan: Perfeksionisme
Mengapa Anda melakukannya: Mungkin Orangtua Anda juga adalah perfeksionis, dan mempunyai harapan tinggi terhadap Anda. Misalkan dulu sering berkata,”Hanya dapat nilai 8, Dina?” Bagaimana menghentikan: Berlatihlah menerima sedikit hal yang tidak sempurna/ sesuai keinginan Anda asalkan tidak membawa dampak besar.

"Anda akan melihat konsekuensi tidak begitu mengerikan," kata Cutts. Tetapkan batas waktu untuk tugas-tugas, dan menggunakan alarm. Bila tiba saatnya.

Poin-poin Penting 
  • Tahu kapan kebiasaan buruk Anda muncul. Mengidentifikasi kebiasaan-rawan situasi sehingga saat situasi itu muncul, anda sudah ingat.
  • Tahu konsekuensi. Tuliskan kerugiannya bila Anda terus melakukan kebiasaan buruk Anda itu.
  • Ketahui perilaku alternatif. Cari cara untuk mengalihkan Anda dari kegiatan yang merupakan kebiasaan buruk Anda. Temukan sesuatu yang baru dan positif.
  • Ketahui tujuan Anda. Buat rencana dengan tujuan jangka pendek dan jangka panjang, dan hadiahi diri Anda sendiri ketika Anda mencapainya.
  • Memahami anda manusia. Jangan salahkan diri Anda jika Anda tanpa sadar mengulanginya. Ini adalah bagian alami dari perubahan, namun teruslah berusaha.
Sumber : erabaru.net

More Details this Camcorder »